FokusJabar Onlinenya Jawa Barat
728-x-90-02 mobile

Tinjau Tempat Hiburan, Ema Sebut Masih Banyak Catatan yang Harus Diperbaiki

0 14

BANDUNG, FOKUSJabar.co.id: Pada fase Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) Pemerintah Kota (Pemkot)  Bandung meninjau persiapan penerapan protokol kesehatan pada sektor dunia hiburan malam.

Hal itu dilakukan setelah Kota Bandung naik dari zona kuning ke zona biru, juga merespon permintaan pengusaha hiburan malam.

Sekretaris Daerah Kota Bandung, sekaligus Ketua Gugus Tugas Harian Percepatan Penanggulangan Covid-19, Ema Sumarna mengungkapkan, peninjauan sebagai langkah mengecek kesiapan penerapan protokol kesehatan di sektor hiburan malam untuk kembali dibuka.

“Respon kami dari pemkot terhadap permohonan para pengusaha hiburan, yang secara organisasinya diwakili oleh  P3B. Dan memang itu sesuai mekanisme yang ada, seperti kemarin mall melalui APPBI, baru kita survei ke lapangan,” kata Ema usai melakukan peninjauan di Fex Executive Karaoke di Jalan Braga, Kota Bandung Jawa Barat Jumat (3/7/2020).

Menurutnya, Pemkot Bandung konsisten dengan apa yang sudah dibuat dalam regulasi hasil evaluasi. Dimana harus menerapkan kedisiplinan, jaga jarak dan bermasker.

“Kalaupun seandainya dibuka maka konsekuensinya pengunjung 50 persen dari kapasitas. Kita cek ruangan medium, kecil, VIP, mana yang live music dan ruang DJ. Kesimpulan keseluruhan maksimum 50 persen harus dihitung oleh pengusaha,” katanya.

BACA JUGA: Fase AKB, Ema: Tetap Disiplin Terapkan Protokol Kesehatan

Dalam peninjauan tersebut, pihaknya juga belum menemukan penerapan protokol kesehatan yang baik di tempat hiburan malam tersebut.FOKUSJabar.co.id 

“Secara umum karena Covid-19 ini sudah lama, jadi standar protapnya mereka sudah menyiapkan, cuma belum lengkap,” ucapnya.

Untuk itu, Ema meminta kepada pengelola tempat hiburan untuk melengkapi terlebih dahulu sarana penunjang protokol kesehatan seperti tombol lift yang harus touchless, sensor suhu tubuh dan melakukan rapid test kepada setiap pengunjung yang datang sebelum masuk.

“Tapi ada beberapa catatan, nantinya kata mereka lift bakal touchless, tidak ada bersentuhan, kemudian hand sanitizer nya pakai sensor, tidak ada sentuhan. Bahkan, pengunjung itu identitasnya harus diketahui, bila terjadi sesuatu seperti terpapar, kita mudah melacak, karena kejadian malam itu orang yang hadir bakal terlacak,” katanya.

Meski demikian, Ema mengkhawatirkan terjadinya transmisi Covid-19 lantaran klub ataupun live akustik berisiko mengundang kerumunan.

“Nah, kalau live music itu yang khawatir, karena sudah ada orang joget-joget, jadi harus ada petugas yang mengawasi. Tapi, kalau orang hiburan, apakah menjadi nyaman kalau dijaga, itu harus dipikirkan,”ungkapnya.

Tak hanya itu, Ema juga ragu jika nantinya para pengunjung ke tempat karaoke tidak melakukan kontak fisik dengan pemandu lagu di dalam ruangan.

“Yang menjadi persoalan besar adalah, kalau di ruang karaoke, apa jaminannya pengunjung dan pemandu lagu itu tidak ada kontak fisik. Itu yang belum bisa dijawab oleh pengelola ini,”ucap Ema.

Sementara itu, pemilik F3X Executive Karaoke Club Bandung, Alvin mengatakan, pihaknya akan mempertimbangkan terkait usulan rapid tes kepada semua pengunjung. Juga terkait kesiapan protokol kesehatan lainnya. Pihaknya juga telah melakukan rapid tes kepada semua karyawan.

“Usulan pak Sekda untuk menjalankan bisnis hiburan itu sangat baik ya. Tentang rapid test, beberapa waktu lalu di asosiasi memang sempat kita bahas. Memungkinkan atau tidak. Kalau karyawan semuanya sudah, tamu pun nanti kita semua akan kita rapid test, jadi mereka pun akan lebih senang, akan lebih nyaman, kalau semua pengunjung di rapid test,” ungkapnya.

Pihaknya juga akan mengusahakan rapid tes kepada pengunjung. Dan sedang mempertimbangkan apakah rapid tes tersebut akan dibebankan kepada pengunjung atau tidak.

“Jadi kemarin kita sudah mencari rapid test, ternyata gak sejauh itu harganya, dibawah 200 ribu cuma 150ribuan, kita kan belinya banyak. Para pengusaha hiburan di Bandung semuanya beli, nanti kita bagi-bagi. kita sedang godok di asosiasi, apakah ini (rapid tes) akan dibebankan ke pengunjung, atau jadi beban pengusaha,”jelasnya.

(Yusuf Mugni/Bam’s)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.