FokusJabar Onlinenya Jawa Barat
728-x-90-02 mobile

Usai Virus Corona Muncul Hantavirus, Yuk Kenalan

Bukan jenis virus baru

0 23

BANDUNG, FOKUSJabar.co.id: Belum berakhir wabah virus Corona (Covid-19) yang kini menjadi pandemi, kembali muncul virus baru dari Cina, bernama Hantavirus. Meski bukan jenis virus yang baru, tapi korban meninggal pertama di tahun 2020 berasal dari negara Tirai Bambu.

Seperti dilansir Weibo, situs resmi otoritas distrik Ningshan, Provinsi Shaanxi, pada Senin (23/3/2020), seorang pria pekerja tewas di dalam bus saat perjalanan pulang menuju Provinsi Shandong. Pria asal Yunnan tersebut tewas bukan karena virus corona atau Covid-19, melainkan virus lain bernama hantavirus seperti dilansir China Global Times.

Dikutip dari situs resmi Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Hantavirus adalah keluarga virus yang penyebarannya oleh tikus. Terinfeksi hantavirus dapat menyebabkan beragam sindrom penyakit pada manusia.

Ilmuwan asal Swedia, Dr Sumaiyah Shaikh menyebut jika Hantavirus pertama kali muncul pada 1950 di sungai Hanta, tempat perang antara Korea dan Amerika Serikat. Virus ini telah menginfeksi lebih dari 3.000 warga Korsel pada tahun 1978.

Sebelum terjadi di Cina, kasus serupa yang menyebabkan kematian juga terjadi di New York pada 2018. Seorang penunggang kuda di Benmnt Park meninggal.

BACA JUGA: Ini Penampakan Paru-paru dari Pasien Positif Virus Corona 

Di Amerika, virus ini dikenal sebagai hantavirus ‘New World’ dan dapat menyebabkan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) atau sindrom paru. Gejala awal dari infeksi hantavirus adalah kelelahan, demam, dan nyeri otot. Terutama pada kelompok otot besar seperti paha, pinggul, punggung, dan terkadang bahu.

Gejala-gejala ini bersifat universal. Pada beberapa kasus, mungkin mengalami sakit kepala, pusing, kedinginan, dan masalah perut seperti mual, muntah, diare, dan sakit perut. CDC pun menyebut sekitar setengah dari semua pasien HPS mengalami gejala-gejala tersebut.

Empat hingga 10 hari setelah fase awal penyakit, gejala HPS dalam tingkat yang lebih berat akan muncul. Gejala tersebut di antaranya batuk dan sesak napas. Menurut CDC, HPS merupakan penyakit yang cukup fatal dengan tingkat kematian sekitar 38 persen.

Di Amerika Serikat, jenis tikus rusa, tikus kapas, dan tikus padi di negara bagian tenggara dan tikus putih di timur laut merupakan reservoir hantavirus. Hewan pengerat ini menumpahkan virus ke dalam urine, kotoran, dan air liur.

Sedangkan di Eropa dan Asia, sebagian besar ditemukan jenis Hantavirus ‘Old World’ yang dapat menyebabkan demam berdarah hingga Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) atau sindrom ginjal. HFRS disebabkan salah satunya oleh hantavirus dari keluarga Bunyaviridae yang banyak ditemukan di Asia timur, terutama Cina, Rusia, dan Korea serta disebarkan tikus lapangan bergaris (Apodemus agrarius) sebagai reservoir untuk hantavirus.

Gejala HFRS biasanya berkembang dalam 1 hingga 2 minggu setelah terpapar. Dalam kasus lain, virus ini membutuhkan waktu hingga 8 minggu untuk berkembang.

Gejala awal dimulai seperti sakit kepala hebat, sakit punggung dan perut, demam, kedinginan, mual, dan pandangan kabur. Seseorang mungkin memiliki muka memerah, peradangan atau kemerahan pada mata atau ruam. Gejala selanjutnya dapat mencakup tekanan darah rendah, syok akut, kebocoran pembuluh darah, dan gagal ginjal akut, yang dapat menyebabkan kelebihan cairan.

Tingkat keparahan penyakit bervariasi tergantung pada virus yang menyebabkan infeksi. Infeksi Hantanvirus biasanya menyebabkan gejala yang parah dengan pemulihan total bisa memakan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Tingkat kematian pasien HFRS akibat terinfeksi Hantanvirus berkisar antara 5-15 persen.

Penyakit akibat hantanvirus ini tidak menyebar melalui udara. Tetapi dapat menyebar ke manusia jika menyentuh urine, tinja, dan air liur tikus atau mengalami gigitan dari hewan perantara virus (inang) yang terinfeksi. Namun tidak perlu panik, virus ini mudah diinaktivitasi (dimatikan) dengan panas, detergen, pelarut organik, dan larutan hipklorit.

Berbeda dengan virus Corona yang dapat dengan mudah terjadi antara manusia dengan manusia, Hantavirus hanya bisa menginfeksi jika seseorang menyentuh mata, hidung atau mulut mereka setelah menyentuh kotoran, urine, atau sarang tikus. CDC menyebut jika kasus-kasus hantavirus jarang terjadi, dan mereka menyebar sebagai akibat kontak yang dekat dengan urin hewan, kotoran atau air liur.

“Hantavirus yang menyebabkan penyakit pada manusia di Amerika Serikat tidak dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain,” kata CDC.

Tidak ada perawatan khusus untuk pengobatan atau vaksin infeksi hantavirus. Namun, jika terinfeksi lebih awal akan lebih baik jika menerima perawatan medis di unit perawatan intensif, inkubasi dan mendapat terapi oksigen untuk membantu gejala kesulitan bernapas yang parah.

Oleh karena itu, jika Anda berada di sekitar hewan pengerat dan alami gejala demam, nyeri otot dalam, dan napas pendek, segera temui dokter. Pastikan untuk memberi tahu dokter bahwa Anda berada di sekitar hewan pengerat.

“Tak perlu panik akan Hantavirus. Virus ini tidak menyebar seperti Covid-19 dan tidak menular antar manusia. Kecuali Anda berencana untuk makan tikus,” ujar Dr Sumaiyah Shaikh.

(ars)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.