FokusJabar Onlinenya Jawa Barat

Atlet Andalan Diincar Provinsi Pesaing, Ini Cara KONI Jabar Mengatasinya

0 0

BANDUNG, FOKUSJabar.co.id: Sebagai juara umum PON XIX/2016 sekaligus penyokong tim nasional Indonesia, atlet-atlet potensial Jawa Barat kerap menjadi incaran provinsi lain menjelang gelaran PON XX tahun 2020 di Papua.

Untuk mengantisipasi ‘pembajakan’ atlet yang dilakukan provinsi pesaing dengan berbagai cara, KONI Jabar pun menyiapkan langkah antisipastif.

Ketua KONI Jabar, Ahmad Saefudin menuturkan, berdasarkan perhitungan dan analiasi yang dilakukan, Jabar masih unggul di tiga kategori Cabang Olahraga (Cabor). Yakni, di cabang-cabang olahraga terukur, beladiri, hingga beregu.

” Kalau untuk Cabor penilaian, kita akui ketinggalan. Tapi kita unggul di tiga kategori Cabor yang lain. Raihan medali dari situ sudah sangat banyak, maka akan kita amankan,” ujar Ahmad saat ditemui di gedung KONI Jabar, Jalan Pajajaran Kota Bandung, Jumat (16/8/2019).

Ahmad mengaku, beberapa provinsi pesaing sudah banyak melakukan pendekatan terhadap atlet-atlet andalan Jabar di tiga kategori Cabor unggulan. Selain iming-iming berupa honor dan bonus, upaya lain pun dilakukan provinsi pesaing untuk memboyong atlet asal Jabar membela provinsi mereka di PON XX/2020.

” Salah satu cara yakni melalui institusi pemerintah dengan memindah tugaskan atlet kita ke provinsi yang dituju. Bahkan ada satu atlet kita dari cabang olahraga menembak yang sudah dipindah tugaskan ke Papua,” terangnya.

Selain itu, lanjut Ahmad, berbagai upaya pun dilakukan provinsi pesaing utama Jabar yakni DKI Jakarta dan Jatim. Kedua provinsi tersebut pun sudah melakukan upaya ‘membajak’ atlet andalan Jabar untuk pindah melalui cara dipindahtugaskan kedinasan di institusi tempat si atlet bekerja.

” Kita tidak terlalu risau, selain rasa kedaerahan atlet yang sudah tinggi dan mutasi atlet tetap ada aturannya. Silakan dari sisi pekerjaan pindah, tapi ada aturan yang teteap harus dipatuhi. Harus ada rekomendasi dari klub, pengcab, pengprov hingga KONI asal si atlet. Tidak bisa begitu saja. Ya kalau ‘dipaksa’ pindah, minimal bedo atau si atlet tidak bisa ikut disana atau disini. Dari catatan kami ada sekitar 8 atlet yang kondisinya seperti itu,” pungkasnya.

(ageng/bam’s)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.