FokusJabar Onlinenya Jawa Barat

Lama Tak Terdengar, PHB Rilis Tua Tua Keledai

0 7

BANDUNG, FOKUSJabar.co.id: Lama tak terdengar, band indie asal Kota Bandung, Pemuda Harapan Bangsa (PHB), kembali menunjukkan eksistensinya. Terakhir kali mengeluarkan album di tahun 2008, kini di bulan April 2019, band indie yang berdiri tahun 1996 ini kembali melahirkan album dengan tajuk ‘Tua Tua Keledai’.

Album keempat ini menjadi bukti dari band dengan formasi Nedi (vokal), Ivan (bass), Yoga (gendang/tam tam), Dadi (okulele), Adul (gitar), dan Alam (gitar), masih mampu untuk berkarya dan menunjukkan eksistensinya. Dua puluh dua tahun bertahan dengan beberapa kali perubahan formasi, bukanlah hal yang mudah namun semangat untuk berkarya pun selalu menghampiri.

“Sebenarnya, PHB berniat membuat album keempat ini dari tahun 2013. Tapi penggarapan materi album keempat ini justru baru selesai di tahun ini,” ujar sang vokalis, Nedi, Kamis (25/4/2019)

Merasa sudah tidak muda lagi, Nedi menegaskan jika pihaknya tidak kapok membuat album meski belum tentu laku dan bikin kaya. Hal menjadi alasan pihaknya merilis album keempat dengan judul ‘Tua Tua Keledai’. Album keempat PHB ini pun memiliki 10 track list meski hanya berisi 9 lagu saja yakni Indehoy, CLG feat Vio Sundamanik, Status, Hoyong Motor, PING, Gorila,Hobby MS, Cinta Jajaran Genjang, dan PHB Prends.

“Kelancaran album ini sangat membutuhkan dukungan dari banyak pihak. Karena itu kami mengajak seluruh handai taulan untuk ikut berpartisipasi dalam album keempat kami,” terangnya.

Personil PHB lainnya, Yoga menambahkan, album keempat ini lahir dari kegelisahan melihat industri musik saat ini dimana toko CD atau kaset sudah semakin sulit ditemukan. Penjualan fisik pun sudah mulai terkikis oleh penjualan digital.

“Karena itu, PHB memutar otak untuk menghadapi situasi tersebut. Muncul juga fenomena CD yang dijual dengan paket ayam sehingga menginspirasi PHB untuk meniru konsep bundling tersebut,” tutur Yoga.

Bukan PHB kalau tidak edan, begitulah pandangan kebanyakan orang kepada PHB. Sehingga konsep pemasaran album keempat pun, diakui Yoga, ‘diedankan’ dengan mengikuti kondisi saat ini.

“Kami memutuskan menjual album keempat ini bundling dengan kopi. Saat ini kan kedai kopi sedang marak dimana mana sehingga PHB pun ingin mencoba mengikuti trend kopi tersebut,” tambahnya.

Tak hanya itu, kemasan album ‘Tua Tua Keledai’ pun dikemas layaknya berjualan kopi sekaligus bundling dengan kopi dan beberapa gift yang sudah termasuk dalam satu kemasan. Dengan menyesuaikan diri pada kondisi yang ada, diharapkan bisa makin memudahkan PHB dalam melakukan distribusi album.

“Semoga dengan upaya ini, PHB tetap memiliki dan memelihari semangat untuk berjuang membuat sebuah artefak atau benda sejarah yang dibuat berdasarkan sebuah karya untuk menjadi cerita anak cucu kita dimasa depan,” pungkasnya.

(ageng)

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.